Sedikit tergesa-gesa, saya naiki tangga pintu keluar stasiun Tsukiji. Khawatir terlambat, saya lirik jam di pergelangan tangan. Alhamdulillah masih banyak waktu yang tersisa rupanya. Sudah dua bulan saya berkerja part time di salah satu perusahaan Jepang di daerah ini. Untuk menjaga citra baik sorang muslimah, kata terlambat sangat saya hindari.
Saya percepat langkah dengan merapatkan baju hangat mengusir angin dingin di musim gugur. “Hmm … puasa hari ke dua di musim gugur,” gumam saya.
Penasaran dengan penampilan, saya lirik kaca jendela mobil yang sedang terparkir. Sedikit saya rapikan jilbab dan gamis. Tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang mencolek bahu saya. Saya palingkan wajah dengan memasang senyum malu.
“Mareeshia no kata desuka” (Orang malaysia ya)?, seorang ibu setengah baya bertanya.
“Bukan saya orang Indonesia,” jawab saya masih dengan senyum malu.
Sedikit lega, ternyata yang mencolek bahu saya bukanlah pemilik mobil. Dari pertanyaan ringan tersebut, kami saling memperkenalkan diri dan bercerita penuh keakraban. Ibu yang bernama Mariko tersebut menjelaskan bahwa anak perempuannya sudah lima tahun bekerja di Malaysia. Saat melihat saya, Mariko-san, begitu saya panggil ibu itu, tiba-tiba teringat pada anaknya.
Dalam pembicaraan, tiba-tiba Mariko-san bertanya “Saya dengar hari ini bulan puasa, pasti terasa berat yah,” ucapnya bersimpati. Continue reading

